Opini

Klinik UKM Jatim, Dari 4 Menjadi 10+2

Tidak terasa, tanggal 13 maret 2012 nanti Klinik UKM Jawa Timur akan berumur 4 tahun. sebuah usia yang masih muda bagi sebuah lembaga baru tentunya. Namun demikian, kiprah Klinik UKM Jatim ini sudah melampaui batas wilayah propinsi. Indikatornya jelas, diantaranya setiap bulan selalu menerima tamu dari berbagai pelosok negeri untuk studi banding, melihat secara langsung,   dan belajar bagaimana Klinik UKM bekerja dan melayani masyarakat.

Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Jawa Timur sebagai pengelola Klinik UKM tersebut juga kecipratan banyak berkah. sudah tidak terhitung lagi banyaknya undangan kepada pejabat dinas untuk ceramah di berbagai daerah menceritakan kisah sukses Klinik UKM. Dan, berkat kesuksesan dalam mengelola Klinik UKM ini pula (dan tentunya juga didukung oleh sukses yang lain, termasuk dukungan politik pak Gubernur), maka Pak Braman Setyo selaku kepala Dinas memperoleh promosi luarbiasa dengan ditarik ke Kementerian Koperasi & UKM sebagai salah satu Deputi Menteri. Ini peristiwa langka di jaman reformasi.

Kisah gerak maju Klinik UKM Jawa Timur tidak terlepas dari dukungan penuh Gubernur Jawa Timur Pak De Karwo terhadap Dinas Koperasi & UKM yang terhitung sangat luarbiasa. terjadi peningkatan alokasi anggaran yang signifikan guna mendorong munculnya berbagai aktivitas pelayanan kepada UMKM melalui Klinik UKM. Artinya, dukungan kebijakan yang total dari pimpinan daerah menjadi syarat mutlak bagi adanya program pemberdayaan yang berpihak kepada rakyat.

JUMLAH PELAYANAN MENINGKAT

Pada awal berdiri, Klinik UKM Jatim menyediakan 4 jenis layanan, yakni: konsultasi bisnis, informasi bisnis, advokasi, dan short course. dari keempat layanan tersebut, yang berjalan dengan baik dan berkembang dengan cepat adalah layanan Short Course. Dengan dukungan dana dari APBD, Klinik UKM mampu menyelenggarakan 24 short course dalam satu tahun.

Sampai dengan akhir tahun 2011, layanan klinik UKM meningkat tajam menjadi 10. yakni: konsultasi bisnis, informasi bisnis, advokasi dan pendampingan, short course, akses pembiayaan, akses pemasaran, pusat pustaka entrepreneur, mobile clinic, layanan IT-Entrepreneur, TV-UKM Online. dari berbagai layanan tersebut, sebagian diantaranya dilaksanakan atas kerjasama dengan pihak lain. Misalnya IT-Entrepreneur, hasil kerjasama dengan ITS Surabaya. Sedangkan Mobile clinic adalah hasil kerjasama dengan PT TELKOM.

Di tahun 2012 ini, Dinaskop & UKM Jatim berencana menambah 2 layanan baru, yakni layanan HKI dan layanan pajak. Bila tambahan layanan baru ini bisa terwujud, maka dalam usianya yang ke-4, klinik UKM Jatim telah mampu meningkatkan jumlah layanannya menjadi 400%.

SAATNYA MENENGOK KE BELAKANG

Tentu, kita wajib mensyukuri atas capaian Klinik UKM tersebut. Namun demikian, kiranya perlu pula kita “menengok ke belakang” sejenak untuk melakukan evaluasi. Hal ini diperlukan agar ke depan Klinik UKM Jatim semakin baik dan semakin berkualitas dalam melayani UKM.

Mungkin sudah ada kegiatan evaluasi di internal Dinas Koperasi & UKM Jatim terhadap jalannya Klinik UKM selama 4 tahun terakhir ini. Namun karena tidak tersedia dokumen yang dipublikasikan tentang hal tersebut, maka yang mungkin kita lakukan adalah memberi masukan dan saran tentang apa saja yang perlu dievaluasi dan apa usul saran untuk perbaikannya.

  • JUMLAH LAYANAN. Dari 4 menjadi 12, tentu sebuah capaian yang bagus. Namun demikian, apakah kebijakan menambah jumlah layanan secara ini sudah diimbangi dengan penyiapan daya dukungnya? contoh sukses mempertahankan layanan di Klinik UKM bisa di lihat untuk jenis layanan short course. secara konstan setiap tahun mampu selenggarakan 24 latihan, dengan jenis pelatihan yang beragam. contoh kegagalan bisa dilihat dalam pengelolaan mobile clinic. Artinya, sebaiknya untuk jenis layanan yang diminati oleh masyarakat, bisa lebih ditingkatkan kualitas dan volumenya. sedangkan untuk layanan yang tidak berjalan dengan baik, bisa saja di hentikan. Dan ini bukan hal tabu. Lebih baik di stop, daripada membebani pengelola klinik.
  • MANAJEMEN PENGELOLA KLINIK. Selama 4 tahun, relatif tidak tampak perubahan drastis di dalam manajemen yang mengelola Klinik UKM Jatim. pertanyaannya, manajemen yang sekarang telah bekerja hampir 4 tahun ini sudah berhasil, biasa saja, ataukah gagal dalam menjalankan tugasnya? perlu dievaluasi dengan menggunakan ukuran2 kinerja yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Momentum Penggantian Kepala Subdin UKM di Dinaskop & UKM Jatim di awal februari ini bisa menjadi titik masuk yang tepat. Semoga Ibu Kasubdin yang baru mampu dengan jernih melihat dan memperbaiki berbagai kelemahan dalam pengelolaan Klinik UKM Jatim
  • PERAN KORWIL ABDSI JATIM. Kiranya perlu ditata kembali dimana letak dan peran Korwil dalam pengelolaan Klinik UKM. Jangan terus menerus dibiarkan dalam situasi abu-abu seperti saat ini. Perlu dilihat ulang apakah SK Pengelola Klinik oleh ABDSI di tahun 2008 lalu masih efektif berjalan. Dibutuhkan nyali untuk lakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
  • PERAN STAKEHOLDERS. saya belum melihat adanya forum ini di Klinik UKM Jatim. UKM diperankan sebagai obyek murni dalam implementasi program klinik. Berbagai asosiasi UKM belum diperankan secara optimal sebagai partner sejajar. Hal ini menjadi tantangan bagi Dinaskop & UKM Jatim. Perlu ada perubahan paradigma mendasar dalam pola penanganan UKM, khususnya terkait dengan Klinik UKM Jatim
  • KEBERLANJUTAN. Jelas, Klinik UKM berada dalam ranah Goverment Services. Artinya, semua layanan KLINIK terhadap UKM adalah bentuk dukungan pemerintah terhadap UKM. dan semuanya disediakan secara gratis. Namun demikian, apakah hal ini bisa berlangsung secara terus menerus? bagaimana kalau gubernur baru nantinya berubah pikiran dan tidak anggap lagi UKM sebagai program yang menarik?. hal ini perlu dipikirkan. dan Jawa Timur beruntung telah memiliki Perda nomor 6 tahun 2011 tentang pemberdayaan UMKM. Ini bisa jadi alat pengendali agar program2 pemberdayaan UKM di Jawa Timur, khususnya melalui klinik UKM, bisa terus berlanjut dan semakin menguat.
  • SINERGI VERTIKAL HORISONTAL. Upaya Dinaskop & UKM Jatim mendorong tumbuhnya Klinik UKM di kabupaten-kota patut diacungi jempol. namun namun upaya tersebut tidak mudah. walau sudah dipancing dengan berbagai insentif, tidak semua daerah meresponnya dengan baik. Salah satu daerah yang bisa diacungi adalah Kabupaten Banyuwangi. Pak Bupati merespon dengan sungguh2 ajakan dari Dinaskop & UKM tersebut. Salah satunya adalah dengan menyediakan mobil klinik melalui dana APBD setempat. Upaya mendorong pemerintah kabupaten-kota lainnya di Jawa Timur untuk menyediakan klinik UKM harus terus menerus dilakukan. tidak boleh bosan. selain itu, diperlukan sinerti horisontal antara klinik UKM dengan berbagai lembaga sejenis, khususnya BDS-P. hal tersebut diperlukan agar tidak terjadi tumpang tindih bidang garap (jeruk makan jeruk). Jumlah BDS-P yang cukup banyak di Jawa Timur perlu diberdayakan. Klinik pasti memiliki banyak keterbatasan. dan itu bisa diatasi dengan bersinergi.

Tak ada yang mudah. Namun dimana ada kemauan, di situ ada jalan. dan Klinik UKM telah membuktikannya. Sebuah prakarsa lokal, yang perlahan namun pasti menjadi salah satu model penguatan usaha mikro di tanah air.,

Komentar ditutup.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

%d blogger menyukai ini: