berita

PRODUK UNGGULAN: Program OVOP Fokus Pada Komoditas Unik Daerah

Kementerian Koperasi dan UKM secara berkala terus meningkatkan wawasan dan kapasitas SDM koperasi dan pelaku usaha kecil menengah untuk mngembangkan program pengolahan produk unggulan desa (one village one product).

I Wayan Dipta, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Kementerian Koperasi dan UKM, menjelaskan pengembangan produk unggulan daerah difokuskan pada komoditas yang memiliki ciri khas atau keunikan serta berpotensi dieksploitasi.

”Prinsip pengembangan one village one product (OVOP) mempunyai potensi pasar lokal maupun ekspor. Karena  itu diharapkan produk unggulan lokal juga bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri serta mendunia,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (19/11/2012).

Komoditas unggulan dipastikan memiliki daya saing, karena proses industri atau pengolahannya dilakukan berkesinambungan dan umumnya berdekatan dengan basis usaha. Yang telah dikembangkan dengan pendekatan OVOP, termasuk produk unggulan agroindustri pertanian dan  perkebunan.

Artinya, katanya, berbagai produk unggulan dan pariwisata itu dikemas rapi untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat setempat dan pada akhirnya menjadi unggulan ekonomi  yang membanggakan bagi negara.

Provinsi Bengkulu yang mempunyai potensi unggulan jeruk kalamansi , pada Oktober 2012 telah dilaksanakan pelatihan terpadu untuk pengembangan program OVOP. Metode yang diperkenalkan kepada peserta adalah andagogi.

Yakni, metodologi yang berbasis pada kontribusi atau partisipasi peserta. Metoda itu merupakan kombinasi dari ceramah, presentasi, diskusi, tanya jawab, dan penugasan. Materi lainnya terdiri dari peran koperasi meningkatan kewirausahaan.

”Kemudian pengembangan agribisnis untuk meningkatkan nilai tambah produk unggulan jeruk kalamansi. Selain itu mencakup peningkatan kualitas packaging untuk memperluas pemasaran. Terakhir, pengembangan OVOP dilaksanakan dengan keterlibatan koperasi.”

Di kawasan Pulau Sumatra komoditas unggulan yang telah dikembangkan melalui pendekatan OVOP, a.l. kopi di Lampung, nenas dari Prabumullih, Sumatra Selatan. Selain koperasi sebagai koordinator program, peranan pemerintah setempat juga sangat mendukung.

”Pada dasarnya, pendekatan OVOP harus dimulai dari proses bottom up, sehingga mudah mengidentifikasi problem, potensi, dan kelayakan bagi pengembangan produk unggulan setempat,” ungkap I Wayan Dipta.

About bdsindonesia

Hadir dan Mengalir, untuk memajukan UMKM Indonesia melalui BDS / Business Development Services.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

%d blogger menyukai ini: