Menteri Negara Koperasi dan UKM Syarifuddin Hasan akan melanjutkan program-program yang telah dilakukan oleh pendahulunya, tetapi pola pikir kerja (mindset) jajarannya perlu diubah.

Sesuai arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pertemuan dengan Kabinet Indonesia Bersatu II, kemarin, Syarif mendapat tugas melanjutkan program yang telah dilaksanakan Suryadharma Ali.

Dia mengatakan apa yang telah dilaksanakan menteri sebelumnya, harus terus dilaksanakan. Program apa yang belum tercapai, juga diteruskan, dan program apa yang sudah tercapai agar terus dilanjutkan dengan lebih baik.

Yang penting, katanya, tugas dalam waktu dekat ini adalah menyangkut penguatan kelembagaan, menyangkut pola pikir yang harus berubah. Selain itu harus antisipasif meng-hadi tiap persoalan dan turun ke bawah sebagai pelayan publik.

“Payung hukum program kita perbaiki, termasuk harus berpandangan positif jika ada konglomerat ingin mendirikan koperasi. Saya sudah mendata persoalan untuk ditindaklanjuti segera,” kata Syarif sebelum mengunjungi seluruh ruangan kerja karyawan Kementerian Koperasi dan UKM di Jl. Rasuna Said, Jakarta Selatan, kemarin.

Pola pikir

Dia meminta seluruh jajaran instansinya mengubah pola pikir kerja atau mindset untuk mengoptimalkan kinerja koperasi dan usaha mikro kecil dan menengah (KUMKM).

Jika perubahan cara berpikir tersebut bisa dipenuhi seluruh pejabat, staf dan karyawan, dia optimistis sistem perekonomian Indonesia bisa lebih kuat karena akan didukung sekitar 51 juta pelaku KUMKM.”Dalam visi saya, sangat ingin instansi ini jadi institusi teratas dalam memberdayakan koperasi dan UMKM,” ujar Syarif.

Memiliki semangat dan kinerja teratas, meski tugas itu masih ada di beberapa instansi pemerintah dan lembaga swasta lainnya, Syarif opstimistis Kementerian Koperasi dan UKM akan mampu meningkatkan kinerja koperasi dan UMKM.

Menurut dia, UMKM misalnya, harus bisa naik kelas. Yang mikro naik kelas ke kelompok kecil, dan kecil naik kelas ke menengah, demikian seterusnya. Pembinaan terhadap koperasi juga harus diberlakukan sama.

Apalagi, ada Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) yang menjadi mitra. Dengan kerja sama kuat maka persoalan paling krusial di koperasi bisa diatasi. “Ini jika kita sepakat koperasi itu merupakan kegiatan ekonomi di Indonesia.”

“Sepanjang tugas dan program itu sesuai dengan Undang-undang serta menyangkut kesejahteraan masyarakat, saya kira seluruh karyawan di kementerian ini harus all out untuk berjuang,” tegas Syarif.

Dia minta kerja sama dan perubahan pola pikir, karena menyadari dirinya mempunyai visi terbatas melihat masa depan dunia KUMKM. Selain itu, monitoring seorang menteri juga dinilainya sangat terbatas.

Sumber : Bisnis Indonesia

Musyawarah Nasional III Asosiasi BDS Indonesia di Solo tanggal 26 oktober 2009 telah berlangsung dengan sukses. Peserta yang berasal dari berbagai propinsi, termasuk Aceh dan Sulawesi Utara, dengan penuh semangat mengikuti rangkaian agenda Munas.
Munas ditutup tanggal 27 oktober dini hari jam 02.00, dengan menghasilkan: penyempurnaan AD/ART, program kerja, perbaikan kelembagaan, rekomendasi, dan terbentuknya kepengurusan baru periode 2009-2014.
Selamat jalan kepada bapak Samsul Hadi beserta pengurus lainnya, yang telah berhasil meletakkan pondasi kokoh keberadaan BDS di Indonesia. Dukungan bapak masih sangat diharapkan agar BDS semakin berdaya, dan UMKM semakin sejahtera.

Selamat datang pengurus baru ABDSI periode 2009-2014. selamat menjalankan tugas kepada Pak Zaenal Arifin (BDS Mitra Semarang). Semoga kepemimpinan bapak mampu melanjutkan apa yang telah dirintis oleh bapak Samsul Hadi dan kawan2 BDS lainnya selama 8 tahun terakhir ini.

Team Formatur BDS se-Aceh hasil konfrensi di Bank Indonesia diwakili Mussanurvan. Beliau besok berangkat dari Aceh. semoga sukses acaranya ya!!! (Samsul Aqmari)

Buat seluruh peserta MUNAS 3 ABDSI. Selamat mengikuti agenda acara dengan khidmat,semoga sukses. (HAMDANI, KKMB Aceh)

Hari ini Kabinet Indonesia Bersatu II akan dilantik. Dan UMKM akan memiliki menteri baru, yakni Pak Syarifudin Hasan. Politikus dari Partai Demokrat ini akan menjadi panglima Kementerian Negara Koperasi & UKM selama 5 tahun mendatang. Apa akan ada perubahan signifikan dari menteri baru ini? kita memang harus bersabar menunggu statemen resmi pak menteri usai dilantik. Namun dengan mengamati struktur kabinet yang tidak berubah sama sekali dibanding kabinet sebelumnya, tampaknya kita harus mengerem harapan agar tidak melambung tinggi lalu meledak tanpa makna.

Mengapa demikian?

1. Keterbatasan budget. anggaran di kementerian koperasi jauh dibawah APBD Kabupaten Banyuwangi. itu menunjukkan betapa susahnya aparat di Kementerian Koperasi & UKM untuk bergerak.

2. Disorientasi. mohon maaf, 2 menteri sebelumnya, yang kebetulan berasal dari partai politik, tidak cukup taat pada RPJM yang dibuat. kepentingan jangka pendek dan kepentingan kelompok, telah mengkerdilkan peran Kementerian itu sendiri di mata masyarakat UMKM.

3. Program UMKM tersebar hampir di semua departemen. ini pula yang menjadikan tugas pemerintah dalam memajukan UMKM tidak maksimal. jangankan antar departemen, dalam satu departemen pun, ego antar dirjen/deputi terhadap program masing-masing ternyata sangat kuat dan tidak mudah disinergikan.

4. Gagal Koordinasi. sebenarnya ini adalah salah satu tugas utama kementerian koperasi & UKM, yakni mengorganisir pemberdayaan UMKM yang dilakukan oleh berbagai departemen. namun sayang hal ini tidak dilakukan dengan baik. bahkan, cenderung kementerian koperasi & UKM asyik dengan dirinya sendiri (hanya utak atik budget sendiri yang jumlahnya tidak seberapa tersebut).

5. Terlalu berorientasi ke usaha mikro. boleh dibilang hampir semua program yang diurus kementerian koperasi & UKM ditujukan kepada usaha mikro. padahal justru semestinya fokus pemberdayaan lebih baik ke usaha kecil dan menengah, yang memiliki daya ungkit signifikan terhadap ekonomi nasional. usaha mikro sudah terlalu banyak yang mengurusi, kementerian koperasi & UKM tinggal mengkoordinasikan saja.

Melihat spion/menengok ke belakang, sesekali perlu dilakukan. itulah gunanya belajar dari kesalahan. Semoga pak Menteri Syarifudin Hasan tidak mengulangi kesalahan pendahulunya, dan mampu membuat gebrakan konkret memajukan UMKM melalui program yang cerdas dan jelas.

Selamat datang pak Menteri. Dengarkan suara rakyat, dengarkan suara UMKM. Mereka akan menjadi mitra yang baik bagi suksesnya tugas pak Menteri kelak.

Berkumpulnya BDS dari berbagai daerah di Indonesia di forum Munas, kiranya akan bermanfaat bila mampu merumuskan isu-isu penting yang dihadapi UMKM, khususnya BDS itu sendiri, beserta agenda solusinya.

Beberapa isu yang perlu mendapat perhatian antara lain:

  • belum adanya cetak biru pengembangan UMKM yang integrated.
  • inkonsistensi antara kebijakan dan implementasinya
  • belum adanya peraturan pemerintah untuk pelaksanaan UU no 20 tahun 2008 tentang UMKM, khususnya terkait dengan pendampingan (didalamnya ada BDS)
  • perlu adanya BDS-penghela, yang dirupakan dalam bentuk BDS Unggulan sebagaimana konsep Kementerian Koperasi & UKM. perlu disikapi dengan kritis ide ini, agar tidak terjebak dalam skema ritual sebagaimana yang kita lihat selama ini dalam pemberian penghargaan koperasi terbaik di acara Harkop.
  • matching agenda antara pemerintah dan BDS dalam mendukung UMKM. dibutuhkan sinergi yg lebih terencana, terarah, dan berkelanjutan.
  • mencari terobosan kemudahan akses pembiayaan bagi UMKM.

Apakah ada isu lain yang hendak diangkat? silahkan beri comment di halaman ini, agar Munas III ABDSI di Solo tersebut punya greget dan manfaat konkret bagi rakyat, khususnya UMKM.

PENDAHULUAN

Konferensi Nasional BDS tanggal 27-30 Mei 2002 telah menorehkan tonggak penting perkembangan BDS di tanah air. Melalui konferensi tersebut, telah dilahirkan sebuah Asosiasi Nasional yang mewadahi peran dan kiprah BDS dalam memberdayakan UKM.

Awal kehadiran Asosiasi BDS Indonesia berlangsung ditengah transisi Pembubaran BPS-KPKM (yang membidani lahirnya program pengembangan sentra UKM sekaligus memfasilitasi pemeran BDS dalam pemberdayaan UMKM), dan ditandai dengan perubahan peta kebijakan dan arah strategi yang tidak cukup kondusif bagi pengembangan BDS. Melalui ADB-TA, negara-negara donor membantu pemerintah menyusun Mid-Term Action Plan/MTAP pemberdayaan UKM 2002-2004. Melalui MTAP, pemerintah menyusun program aksi pemberdayaan UKM dengan melibatkan peran BDS secara lebih intens. Salah satu item dalam MTAP menyebutkan perlunya dukungan dan penguatan bagi forum BDS, dalam hal ini direprentasikan oleh Asosiasi BDS Indonesia. Bahkan, ABDSI diberi kesempatan untuk duduk menjadi anggota Pokja Nasional pengembangan UKM yang bertugas memonitor implementasi MTAP.

Mulai saat itu eksistensi ABDSI lebih dikenal oleh berbagai kalangan. Hal itu dikarenakan Pokja Nasional Pengembangan UKM beranggotakan lintas Departemen/instansi, juga sektor swasta dan stakeholder lainnya yang terkait dalam pemberdayaan UKM di tanah air. Keberhasilan tersebut menjadi lebih terasa saat ABDSI berhasil menyelenggarakan Internasional Conferece on BDS tanggal 28-30 Maret 2003 di Bali yang didukung oleh Kementrian Negara Koperasi & UKM, BRI, dan The Asia Foundation.

Selanjutnya selama tahun 2002-2005, beragam kegiatan mulai workshop, seminar, pelatihan, Rapimnas, Rakornas dan lainnya telah dilakukan oleh ABDSI. Kegiatan memulihkan kembali UKM di Aceh juga telah dilaksanakan melalui program BDS4Aceh, bekerjasama dengan SAVE the CHILDREN. ABDSI juga bekerjasama dengan berbagai pihak seperti Prudentia – Timor Leste, Swiss Contact, International Finance Corporation/IFC-Pensa, CD-SMEs, Fornas UKM, PUPUK Indonesia, SGU, Sequa, Universitas Malikussaleh Lhoksumawe-Nangroe Aceh Darussalam dan masih banyak yang lainnya terus digalakkan.

Tanggal 27-28 Juli 2005, ABDSI menyelenggarakan Munas II di Balikpapan-Kalimantan Timur. Deputi Menegkop & UKM bidan Restrukturisasi & Pengembangan UKM Bapak Choirul Djamhari hadir memberikan pengarahan kepada para peserta Munas. Munas II tersebut menjadi salah satu tahapan penting dalam pengembangan Asosiasi. Produk Munas II tersebut, seperti perubahan AD/ART, program kerja, pengurus baru, telah memberi arah yang lebih tegas bagi kemandirian organisasi di masa-masa selanjutnya.

Selama periode 2005-2009, beragam kegiatan telah dilaksanakan ABDSI, seperti Rapimnas, rakernas, workshop, pelatihan, dan lain-lain. Strategi ABDSI untuk mendorong BDS-P agar menguasai subsektor tertentu secara tuntas, salah satunya diwujudkan dalam bentuk dukungan penuh dalam pengembangan sub sektor rumput laut. Untuk perkuatan kelembagaan, terbentuknya klinik UMKM Jatim menjadi salah satu contoh model pengembangan BDS yang disuport oleh pemerintah daerah.

Saat ini Dewan Pengurus Nasional ABDSI telah bekerja selama empat tahun. Dan sudah waktunya pula untuk mempertanggungjawabkan segala aktivitas kepada anggotanya. Untuk itu, sesuai dengan amanat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga maka akan diselenggarakan MUSYAWARAH NASIONAL III ABDSI. Munas adalah forum tertinggi organisasi. Melalui Munas, ABDSI akan melakukan proses introspeksi, regenerasi, dan menyusun strategi menghadapi tantangan ke depan yang semakin berat.

Munas ABDSI III juga harus mampu merespon adanya kebijakan baru dalam pengembangan BDS, sebagaimana yang tertuang dalam Undang Undang nomor 20 tahun 2008 tentang UMKM dan Peraturan Menteri Koperasi dan UKM nomor 2 tahun 2008. Undang-ndang UMKM tersebut secara tegas menyatakan pentingnya peran pendampingan bagi pemberdayaan UMKM. Dan salah satu model pendampingan yang diakui adalah pendekatan melalui BDS.

Namun demikian, agar kinerja BDS bisa dilihat dan diapresiasi oleh semua stakeholder, kegiatan munas kali ini juga perlu dirupakan dalam bentuk yang bisa dilihat dan diikuti secara langsung oleh pemerintah, donor, swasta, bumn, perbankan, dan berbagai pihak lainnya. Untuk itu Munas ABDSI III juga perlu menyelenggarakan kegiatan seminar-workshop dan pameran. Pilihan temanya berkisar pada pengembangan klaster. Hal ini didasarkan atas fakta sejarah, bahwa keberadaan BDS di Indonesia, berbarengan dan terkait dengan program pengembangan sentra UMKM, yang menjadi cikal bakal pengembangan klaster.

Ide ini akan diwujudkan dalam bentuk sinergi kegiatan dengan FPESD Jawa Tengah, yang telah secara rutin menyelenggarakan event cluster development. Konsistensi yang telah ditunjukkan Pemprov Jawa Tengah dalam membangun klaster tentunya akan menjadi motivasi kuat bagi BDS dan pihak-pihak lain yang serius dalam memajukan UMKM melalui cara-cara cerdas. Untuk itu, Asosiasi BDS Indonesia mengucapkan terimakasih atas dukungan penuh FPESD Provinsi Jateng terhadap agenda Munas ini. dukungan itu menjadi sangat berarti, guna menyemangati anggota Asosiasi BDS Indonesia untuk lebih giat lagi berkarya bagi bangsa, melalui pemberdayaan UMKM.

Peningkatan kapasitas BDS juga perlu secara terus menerus dilakukan. Agenda Munas kali ini juga akan dilengkapi dengan kegiatan international workshop on BDS, dengan fasilitator Mr. Greg McDonald dari Canada. Agenda ini mendapat dukungan dari mitra ABDSI, yakni CIPSED. Dan acara ini adalah untuk kesekian kalinya CIPSED memberi dukungan bagi perkuatan BDS, khususnya bagi anggota ABDSI.

Dan, pemilihan tanggal pelaksanaan Munas beserta rangkaian kegiatannya antara 26-28 oktober 2009, bukan tanpa makna. Pada tanggal 28 oktober kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Semangat pembaharuan oleh para pemuda, itulah yang hendak dipetik. Keberanian untuk berubah, hanya dimiliki oleh kaum muda. Hari esok yang  lebih baik, hanya bisa diwujudkan oleh kaum muda. Semoga keberadaan BDS yang sebagian besar dikomandani oleh pemuda, mampu memberi kontribusi positif bagi kemajuan negeri.

 

TUJUAN DAN MANFAAT

  • Eksternal
    • Mengenalkan eksistensi BDS
    • Menginformasikan kemajuan peran BDS dalam mendukung pengembangan klaster
    • Mempertemukan kepentingan BDS dengan stakeholder pemberdayaan UMKM lainnya
    • Internal
      • Sebagai forum Pertanggungjawaban dan evaluasi kinerja Dewan Pengurus Nasional ABDSI Periode 2005-2009
      • Menetapkan Kebijaksanaan Umum ABDSI Periode 2009-2013
      • Menetapkan Rencana Kerja
      • Menyempurnakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga
      • Mengeluarkan keputusan untuk menyelesaikan permasalahan organisasi dan masalah-masalah penting lainnya
      • Memilih dan mengangkat Dewan Pengurus Rapat ABDSI Periode 2009-2013
      • Memilih dan mengangkat Dewan Penasehat ABDSI Periode 2009-2013
      • Sebagai forum peningkatan kapasitas BDS.

 

KEGIATAN

  • Eksternal/terbuka untuk umum: International Workshop on BDS
  • Eksternal/terbuka untuk umum (diselenggarakan oleh FPESD)
    • International workshop on Cluster Development
    • Exhibition on Cluster Development
    • Internal
      • Pertanggungjawaban DPN ABDSI periode 2005-2009
      • Penyusunan Program Kerja
      • Pemilihan Pengurus Baru DPN ABDSI Periode 2009-2013
      • Pemilihan Dewan Penasehat ABDSI Periode 2009-2013

 

AGENDA KEGIATAN 

1. Agenda International Workshop on BDS

 

Waktu

Uraian

Keterangan

08.00 – 09.00 Registrasi Peserta Panitia
09.00 – 09.30 Pembukaan Workshop BDS dan Munas III Asosiasi BDS IndonesiaOleh: DR. Choirul Djamhari Deputi Menteri Negara Koperasi & UKM
09.30 – 16.00 Workshop on BDS

  1. Brief overview of CME  (to establish credentials)
  2. Importance of Business Associations (Why business associations are important in society)
  3. Role of Government in the Private Sector (What government’s responsibility is to the business sector)
  4. Association Advocacy (What is advocacy and why it is important)
  5. Association Operations issues (The day-to-day issues of a well run association))
  6. Role of Business Linkages(How linkages help SMEs to grow))
Greg McDonald, CIPSED/Canada 
15.30 Penutupan  

  

2. Agenda inti Munas

 Tanggal 26 Oktober 2009                

Waktu

Uraian

Keterangan

18.00 – 19.00 Registrasi Peserta & Makan malam Panitia
19.00 – 19.30 Pembukaan dan Pengarahan MunasDR. Noer Soetrisno Ketua Dewan Pembina ABDSI
19.30 – 20.00 PLENO I  
  Pembahasan dan Pengesahan Agenda Acara Sidang SC
  Pembahasan dan Pengesahan Tata Tertib Sidang SC
  Pemilihan Pimpinan Sidang SC
20.00 – 20.15 PLENO II  
  Laporan Pertanggungjawaban DPN 2005-2009 Sekjen ABDSI
20-15 – 21.00 Rapat-rapat Komisi  
  Komisi A :  Penyempurnaan AD/ART, Program Kerja & rekomendasi Ketua Komisi
  Komisi B  : Laporan pertanggungjawaban, Organisasi dan Kelembagaan & rekomendasi Ketua Komisi
  Komisi C :  Tata Tertib Pemilihan Formatur Ketua Komisi
21.00 – 22.30 PLENO III  
  Pemaparan dan Pengesahan Hasil Rapat Komisi Ketua Komisi
  Pemilihan Formatur Pimpinan Sidang
  Pemilihan, pengesahan dan pelantikan DPN ABDSI periode 2009-2013 Pimpinan Sidang

 

 

3. Agenda International Workshop on Cluster Development

                (diselenggarakan oleh FPESD)

                Selasa, 27 Oktober 2009

 

NO

TIME LINE

PROGRAMS

REMARK

1 08.30 – 09.00 Registration Committee
2 09.00 – 11.00 Speeches:-       Workshop information-      Deputy of Human Resource Analysis, Ministry of Cooperatives & SMEs-      Director General of Small Medium Industry, Department of Industry-      Governor of Central Java and opening the event  Secretary of FPESDIr. I Wayan Dipta, MSc.Drs. Fauzi AzisH. Bibit Waluyo
3 11.00 – 12.00 Touring to the cluster exhibition  Committee
4 12.00 – 13.00 Lunch Committee
5 13.00 – 15.00 Presentations of Experiences on cluster development:  
 1.        Local Economy Development Policy based on Cluster Dr. Ir. Utama H. Padmadinata (BPPT/PI-UMKM)
  1. Cluster Development in Japan
Mr. Yamauchi (JICA)
  1. Cluster Development in China
Josef Traenkler (GTZ ProLH)
 4.        Cluster Development in The Philippines (case study of coconut industry cluster)  Raul Repulda (The Department of Agriculture of Tacloban City, The Phillippines)
  1. Cluster Development in Russia
Tim Reynolds (CIPSED)
6 15.00 – 16.00 Discussion Moderator
7 16.00 – 16.30 Coffeebreak  
8 16.30 Summary  

 

Rabu, 28 Oktober 2009

NO

TIMELINE

PROGRAMS

REMARK

1 08.00 – 08.30 Registration  Committee
2 08..30–10.30 Sharing Experience on Cluster Development:   
   
  1. Experience on Cluster Development in Indonesia
Prof. Dr. Ir. S. Budi Prayitno, MSc. (Central Java FPESD)
   
  1. Experience on Cluster Development in Bangladesh
Philippe Lyssens (ILO)
   
  1. Bacground of cluster development in Indonesia
Dr. Noer Soetrisno
   
  1. Wood Energy Development
Yohannes Iwan Baskoro (Cambodia)
3 10.30 – 12.00 Discussion Facilitator
4 12.00 – 13.00 Lunch  
5 13.00 – 14.00 Working Group Facilitator
    Working Group 1: Policy  
    Working Group 2: Cluster Development Initiatives  
    Working Group 3: Lesson learnt in Cluster Devt.   
6 14.00 – 14.45 Group presentations  
7 14.45 – 15.30 Feedback  
8 15.30 – 16.00 Overall Summary  

 

4. Exhibition on Cluster Development,

                Tanggal 26-28 oktober 2009. diselenggarakan oleh FPESD,

bekerjasama dengan ABDSI

 

PELAKSANA

Panitia Nasional (SC)

  •  
    • Ketua                                     : Drs. Pranoto, M.Sc (UNS)
    • Wakil Ketua                           : Samsul Hadi (ABDSI)
    • Wakil Ketua                           : Kunto Setijono (ABDSI)
    • Wakil Ketua                           : Syamsul Hadi (ABDSI)
    • Wakil Ketua                           : Aslichan Burhan (ABDSI)
    • Wakil Ketua                           : Haris Maupa(ABDSI)
    • Wakil Ketua                           : Arman Arfah (ABDSI)
    • Wakil Ketua                           : Zaenal Arifin (ABDSI)
    • Sekretaris                              : Ir. Heru Irianto, MM (UNS)
    • Sie Seminar                           : Dr. Syahrudin
    • Sie Workshop                          : Drs Hidup Marsudi, MM
    • Sie Pameran                          : Bening (BDS Demak)
    • Sie Perlengkapan                    : Suwanto (BDS Jaka Tingkir)
    • Sie Akomodasi/transportasi : Agung Wibowo, SP.M.Si (UNS)

 

  • Panitia Pelaksana (OC)
    • Ketua                                   : Erlyna Wida Riptanti, SP. MP (UNS)
    • Wakil Ketua                         : Drs Agus Sunarno
    • Sekretaris                             : Kunto Adi, SP. MP (UNS)
    • Sekretariat                            : Afif Nur Cahya, S.Si (UNS); Y. Anggoro T; Sukardi (UNS); Arif Budianto; Sarif H. Mahawib (UNS); Hermanto (UNS)
    • Sie Seminar                          :  Agus Widodo,SE.M.Si,Ak (UNS); Eka Handriyani Lukman
    • Sie Workshop                      :  Budi Utomo; Bekti Wahyu Utami, SP.M.Si (UNS)
    • Sie Akomodasi/Transportasi : Agung Wibowo, SP.M.Si; Alex Malino; Heru
    • Sie Perlengkapan                  : Prihastuti; Nur Choli; Edi Suhardi
    • Sie Pembantu Umum            : Muryanto; Emi Widiyanti, SP.M.Si (UNS); Untung Usmanto
    • Sie Pameran                         : Bening (BDS Demak); Supriyanto; Totok Muhartoyo (BDS Blora); Satya; Suwanto; Bambang Kartono
    • Sie Humas                            : Sukardi (UNS); Untung Usmanto;
    • Sie Publikasi/Dokumentasi    : Afif Nur Cahya, S.Si (UNS)
    • Sie Penggalangan Dana/Sponsor : ABDSI; Y. Anggoro T.; Agus Widodo, SE., M.Si.Ak (UNS); Totok Muhartoyo (BDS Blora); Arif Budianto; Edi

 

TEMPAT 

Kantor Bakorwil II, Jl. Supriyadi no. 1 Surakarta.

 

PESERTA 

1. acara inti Munas III ABDSI diikuti oleh 65 orang, terdiri dari :

  • Peserta Munas III:
    • Pengurus Harian DPP ABDSI
    • Pengurus Divisi DPP ABDSI
    • Wakil Korwil ABDSI Propinsi Selindo,
    • Peninjau Munas III, berasal dari anggota ABDSI, Pemerintah, Donor, Asosiasi Bisnis, dan pihak-pihak lain yang terkait.

        2. International Workshop on BDS

  • Peserta 80 orang
  • Berasal dari pengurus dan anggota ABDSI seluruh Indonesia, serta berbagai pihak yang berminat dalam pengembangan BDS

  

AKOMODASI

Panitia tidak menyediakan akomodasi untuk peserta baik peserta munas, workshop dan pameran.

 

KONTRIBUSI PESERTA

Peserta maupun peninjau Munas III tidak dikenakan kontribusi.

Peserta International workshop on BDS dikenakan kontribusi.

Peserta International Workshop & Exibhition on Cluster Development tidak dikenakan kontribusi.

 

SEKRETARIAT PANITIA

Sekretariat Panitia Nasional: 

Contact Person : Samsul Hadi

Telp : 0818.312.815

Sekretariat.abdsi@gmail.com

 

Sekretariat Panitia Pelaksana Solo

BDS LPPM UNS

Jl. Ir. Sutami No. 36A Kentingan Surakarta

Tlp./Fax : 0271-632916/ 0271-632368

Email : kuntouns@gmail.com

Contact Person :

R. Kunto Adi, SP.MP, 081578765732

corinne-canadaAsosiasi BDS Indonesia bekerjasama dengan CIPSED Project (Canada Indonesia Private Sector Enterprise Development) dan Bakrie School of Management akan menyelenggarakan Pelatihan Intensif bagi Peningkatan Kemampuan Pengelola Lembaga Pengembangan Bisnis/Business Development Services, konsultan UMKM dan para pihak yang mendukung pengembangan UMKM.

Kegiatan tersebut akan diselenggarakan pada tanggal 28-29 mei 2009, Bertempat di Kampus Bakrie School of Management, GOR Soemantri Brodjonegoro Suite GF 22, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. C-22, Kuningan Jakarta Selatan 12920.

Materi hari pertama adalah: How to create and maintain linkages between business service providers, and with their client businesses, and with external markets

Sedangkan yang akan dibahas pada hari kedua adalah: Planning session on exactly how to improve business development services; resulting in a detailed action plan with description of the service to be provided, and who is responsible

Yang akan menjadi instruktur pelatihan tersebut adalah Ibu Corinne Tessier dari CANADA.  Profil selengkapnya dari Ibu Corinne Tessier bisa dibaca dibagian lain di halaman web ini.

Brosur pelatihan beserta formulir pelatihan bisa di unduh di bagian BOX di pojok kanan bawah web ini. Informasi dan pendaftaran hubungi Sekretariat ABDSI:

Jl. Warung Jati Timur nomor  1 Jakarta Selatan, Tlp. 021-79180980, Fax. 021-92310

Contact Person: Nugie, 081317161982, Email: sekretariat.abdsi@gmail.com

JICA kunjungi ABDSI

JICA kunjungi ABDSI

Japan International Cooperation Agency atau yang lebih dikenal dengan nama JICA, oleh pemerintah Indonesia diminta membantu kembali pengembangan sentra UKM. Hal tersebut merupakan bagian dari tindaklanjut hasil studi JICA di 3 klaster industri tahun 2002-2004 lalu yakni industri meubel di serenan Klaten, industri genteng di kebumen, dan industri logam di Waru Sidoarjo.

Upaya mengimplementasikan hasil studi tersebut di beberapa daerah lain yang membutuhkan, tentu sebuah langkah bagus. Hal tersebut ditunjang dengan upaya assessment dan identifikasi ke semua stakeholder yang mungkin bisa dan akan terlibat. Dalam kaitan itu, JICA telah mengunjungi sekretariat ABDSI dan bertemu jajaran pengurus.

Salah satu komponen penting dalam program sentra yang didukung JICA adalah adanya komponen BDS. Dan mereka tidak sembarangan menunjuk BDS. mereka butuh partner yang serius dan bertanggungjawab. Itulah kepentingan utama mereka menemui ABDSI. mereka butuh informasi tentang keberadaan BDS, apa saja yang telah mereka kerjakan, bagaimana kisah suksesnya, dll. mereka fokus mencari BDS di Jawa Barat dan Sumatera Barat, untuk mendukung program pengembangan sentra mereka di industri Nilam Sumedang dan industri songket Bukittinggi.

ABDSI telah memberikan informasi yang mereka butuhkan, dan beberapa langkah lanjutannya sudah mulai disepakati, salah satunya adalah rencana kunjungan lapangan ke sentra akarwangi yang dibina kang Dedi Sudrajat, minggu depan. Ini berarti bahwa JICA tidak cukup hanya diberi bahan omongan dan tulisan, tapi mereka ingin melhat langsung kondisi di lapangan. semoga Kang Dedi bisa menjadi duta yang baik bagi kita semua, dengan menunjukkan karya konkretnya saat mendampingi sentra akar wangi di Garut.

Lembaga pendamping yang intensif membina para pembudidaya rumput laut di Sulsel dalam rangka genjot produksi dan kualitas

Kata kuncinya adalah pendampingan. Program tersebut dituntut mampu menyelesaikan masalah konsistensi kualitas rumput laut yang dihasilkan para pembudidaya tanah air. Setidaknya itu yang diungkap sebagian pelaku agribisnis yang bergerak di pengolahan rumput laut. Bukan saja pelaku bisnis, Made L Nurjana, Dirjen Perikanan Budidaya DKP pun menyebutkan program pendampingan sebagai satu titik kritis. Made secara jelas mensyaratkan program pendampingan intensif bagi para pembudidaya untuk menggenjot produksi rumput laut Indonesia sekaligus meningkatkan kualitasnya.
Tak ketinggalan Deputi Kepala Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT (Badan Pengkajian Penerapan Teknologi), Jana T Anggadiredja pun menyuarakan hal yang sama. Menurut Jana, pendampingan mutlak diperlukan, mengingat para pembudidaya membutuhkan edukasi, baik dalam soal teknis maupun nonteknis. Untuk itu, diperlukan sebuah lembaga yang benar-benar intens melakukan pendampingan bagi para pembudidaya, terutama di sentra-sentra pengembangan rumput laut.
“BPPT sudah melakukannya di Sulsel. Model pendampingan dilakukan bersama Kospermindo,” ujar Jana kepada TROBOS beberapa waktu lalu. Kospermindo (Koperasi Serikat Pekerja Merdeka Indonesia) inilah jelmaan dari lembaga pendampingan yang intensif membina para pembudidaya rumput laut di Sulawesi Selatan. Menurut Jana yang juga Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia, model pendampingan yang dilakukan Kospermindo ini akan dijadikan contoh untuk dikembangkan di sentra-sentra rumput laut lainnya yang ada di Indonesia.

Rambah 9 Kabupaten
Berawal dari sebuah koperasi simpan pinjam binaan BPPT, Kospermindo yang berdiri sejak tahun 1999 melakukan pendampingan bagi para pembudidaya rumput laut dimulai 2002. Puncaknya, di 2004 Kospermindo memutuskan untuk masuk secara total ke sistem agribisnis rumput laut.
“Sejak tahun 2004 kami total sepenuhnya terjun ke agribisnis rumput laut. Dengan salah satu tugas kami melakukan pendampingan secara intensif kepada para pembudidaya rumput laut yang ada di Sulsel,” papar Ketua Kospermindo, Arman Arfah, saat dihubungi TROBOS melalui ponselnya.
Arman menyadari, program pendampingan merupakan salah satu solusi kunci meningkatkan kualitas rumput laut yang dihasilkan oleh pembudidaya. “Selama ini pembudidaya tidak ada yang mendampingi, sehingga kualitas produknya berbeda-beda antara pembudidaya yang satu dengan yang lainnya,” imbuhnya.
Pendampingan kepada para pembudidaya rumput laut ini langsung dilakukan para staf Kospermindo, dengan cara membentuk kelompok-kelompok pembudidaya yang terdiri atas 10-15 orang pembudidaya. Setelah itu, masing-masing kelompok dikumpulkan lagi dan tergabung dalam satu kordinasi yang dipimpin oleh seorang kordinator.
Kordinator inilah yang aktif berdiskusi untuk menggali permasalahan-permasalahan yang dihadapi para pembudidaya sekaligus mencarikan jalan keluarnya. “Selain dilakukan oleh staf Kospermindo sendiri, kita juga sering melakukan kerjasama dengan Pemda untuk melakukan pembinaan,” tutur Arman.
Menurutnya, sampai saat ini, Kospermindo memiliki binaan yang tersebar di 9 kabupaten di Sulsel meliputi; Bone, Sinjai, Wajo, Luwu, Luwu Utara, Palopo, Jeneponto, Takalar dan Bulukumba. “Jumlah total pembudidaya yang telah dibina Kospermindo mencapai 4.000 orang lebih, terdiri atas pembudidaya Gracilaria sp dan Eucheuma sp, dengan luas lahan mencapai 1.500 ha untuk Gracilaria sp dan 900 ha untuk Eucheuma cotonii,” ujar Arman detail.
Selain itu, untuk mengatasi permasalahan buruknya kualitas bibit rumput laut, Kospermindo juga tengah berupaya untuk mengembangkan kebun bibit di Sulsel. Kebun bibit ini sebelumnya dirintis oleh BPPT pada 2005, yang kemudian diteruskan oleh Kospermindo. “Dilakukan seleksi bibit, mana yang bagus kemudian dikembangkan,” ujar Jana. Kebun bibit yang dikembangkan Kospermindo telah ada di tiga kabupaten yaitu Bone, Wajo dan Pinrang.

Sumber: TROBOS

Halaman Berikutnya »